Cerita Bersepeda di Bandung

Oh hai, hari ini cerita sepeda.

Aku bersepeda di Bandung! Inginnya sudah lama sebenarnya. Tapi sering tertunda karena beragam hal. Tapi akhirnya aku coba. Ada beberapa alasan kenapa sampai akhirnya aku memilih bersepeda walau jarak jauh harus aku tempuh.

Pertama adalah Olahraga bagaimana aktifitas ini menarik adalah karena olah raga bisa sambil berpindah tempat menuju tempat bekerja. Sekaligus. Waktu yang terpakai diantara perjalanan bisa sambil kardio. Karena biasa lari paginya hanya setengah jam. Tapi persiapannya sampai satu jam. Ku rasa bersepeda bisa sekaligus, lebih efisien. Jadi mari aku coba.

Kedua adalah mengurangi polusi dan juga kemacetan ya gitu deh, ngerti kan yah. Bagaimana polusi yang dihasilkan kendaraan dijalanan itu adalah salah satu kolektif ‘sukses’nya kita dalam pemanasan global.

Ketiga, dengan bersepeda rasanya aku jalan dengan slowmotion bisa memperhatikan hal-hal yang bisanya jalan sekelebat.Seperti mendengar bertegur sapa tetangga. Melihat sekitar dengan lebih syahdu. Aku memang suka perjalanan.

Akhirnya aku bersepeda di pagi itu. Berangkat pukul delapan pagi menuju Dago. Sampai jalan Kalimantan aku masih punya banyak tenaga.Sepanjang jalan dago adalah jalan yang paling berat! Jalanan datar dan turunan paling ku suka. Sorot matahari pagi itu tepat di depan muka. Silau sekali, jadi aku memilih jalan sabuga yang lebih teduh. Pada jalan setelah Simpang Dago aku banyak beristirahat. Tapi akhirnya aku sampai di Cisitu dengan selamat dan sehat walafiat. Walau pada sore harinya aku tak bisa ajak pulang sepedaku karena hujan begitu lebat dan tasku tak bisa kena air sedikitpun. Jadi ku ambil sepeda pada lain hari. Perjalanan pulang akan lebih menyenangkan karena jalanan turun. yea!

Kalau rintanganya……

Pertama, Aku merasa pesepeda adalah orang yang tak di anggap di jalan raya. Huhu sedih beberapa pengguna jalan banyak yang tak memberi jalan pada pesepeda. Bingung memang karena tak ada jalur khusus. Mau nyebrang jalan sulit sekali, belum lagi angkot yang berhenti mendadak pas tanjakan. Mantap!

Kedua, Bandung dengan kontur jalannya yang nanjak-mudun, memang teman baiknya si betis besar. Tanjakan adalah rintanganku paling utama dalam rute Moh Toha – Cisitu. Berangkat jam 08.00 tiba di Rumah Maul hampir pukul sepuluh. hahaha efisien sekali waktunya T-T

Setelah aku jalani memang bike to work tidak cocok dengan kondisiku. Karena kuatnya fisik tidak berbandung lurus dengan medan yang di tempuh. hosh hosh hosh. Sampai kantor rasanya ingin selonjor. Kalau aku bersepeda aku harus punya jarak kantor dan rumah yang tidak lebih dari 3 Km. Atau kalo jarak rumah memang jauh, bersepeda hanya dalam waktu tertentu, dan ketahanan fisik harus lebih di tingkatkan.

Oh! dan aku jadi mengerti satu sudut pandang baru. Tentang berbagi jalan di jalanan.

Juga perasaan salutku pada mereka para pesepeda jalanan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s