Tiga Bulan Kebon Kopi

1598657_10153075386754295_5356002924932506178_o

 

Sudah pernah hirup wangi bunga kopi pada musim mekarnya?

Dari jauh saja,  wangi bunga sudah terasa. Kalau dekat dan banyak menyedak di tenggorokan, pahitnya bukan metafora. Siapa yang tidak rindu dengan masa bermalam di tengah kebun kopi? Walau wangi bunga kopi bisa ku setel ulang semauku. Terekam dari ujung jalan setelah pertigaan, kebon kopi diawal persimpangan. Ketika itu aku bersepeda, sendiri, berdua, bertiga, atau berlima.

‘Turis…. turiis….’ begitu teriak anak-anak pada pengendara dengan caping.

Sejak  ukuwah semanis teh pagi dalam teko kami. Dengan obrolan kesana-kemari di hiasi wajah penuh ekspresi. Aku rindu tiga bulan di kebun kopi. Dari awal tiba di tanahnya, aku ingin menyerap semua detail. Karena hari cuman datang sekali. Sekarang siapa yang merasa bahwa tiga bulan itu rasanya baru kemarin? Tapi lekatnya sepanjang masa.

Sekarang ini bau bunga kopi rasanya mahal. Semahal radio kayu dan sepeda bambu untuk pelajar sepertiku. Sama halnya dengan gurat-gurat diwajah-wajahmu.

IMG_0037


 

Di tengah perjalanan menulis feed ini, Mbak Ayu chat aku, ia bilang :

Capture

Yes, we both connected 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s