Salah Sambung (2)

Aku tak bisa memisahkan rasa dalam satu sosok. Kagum, teduh, rindu, bijak, konyol, mimpi, gugup, telah ada dalam satu paket utuh. Rasa yang tumbuh, karena beragam scene situasi, latar belakang, ketertarikan dan lingkungan dalam kehendak Yang Kuasa, seakan jadi sinar matahari, tanah, air dan pupuk dalam tanaman untuk tumbuh. Intesitas jadi hal yang penting dalam faktor tumbuh.

Aku sadar. Keindahan ini adalah tahapan sisi terjalnya. Ketika tak bisa mengeja dan membedakan makna keindahan: keindahan bersamanya dan keindahan bersamaNya. Bersamanya adalah tentang yakin dan tak yakin. Iya, tak bisa di pisah, yakin dan tak yakin. Perasaan yang berlawanan ini kemudian jadi belenggu. Akui Indah, tapi ada yang salah… Ini diluar kendaliku. Situasi ini seakan membawa dalam arus yang tak jelas arahnya akan kemana. Diri ini mengaku yakin akan Kuasamu Yang Maha Indah. Begitu juga dengan raga yang terus berucap tentang yakinku padaMu. Tapi ada yang salah….

Yang mana realita? Pikiran ku yang membelenggu akan perasaan yakin dan tak yakin? Atau pikiranku yang merasa terbelenggu dengan aturan keyakinanku padahal aku mengaku yakin? Salah sambung……

Pengalaman sebelum ini pernah mengajari aku pada makna ketulusan, dan keikhlasan. Membuat aku mengerti dan yakin betapa tak sempurnanya sistem dalam suatu hubungan lawan jenis yang tak di ridhai Tuhan. Sistem salah sambung, menjadikan cinta yang tak bisa dipisahkan dengan ketulusan, menjadi begitu brutal mengikat pada hal yang belum waktunya.

Oh kali ini aku mulai besar, yang ini bukan yang seperti itu. Begini saja dan apa adanya merupakan harapan dari harapanku.  Pada hakikatnya ia sederhana. Menjadi rumit karena ada yang belum selesai aku pahami. Berada dalam arena ini sungguh menakutkan.

Apa yang salah sambung? Setelah aku jalani setiap episodenya, kemudian aku ada dalam suatu tahap dimana aku merasa harus mengambil keputusan. Kemudian aku memilih pasrah dan berserah pada Sang Maha Pemilik segalanya. Berserah mengikuti aturanNya, melepaskan segala prasangka. Berada pada arena ini menakutkan, bersyukur aku berhijrah bukan karena aku menghindari ketakutan yang salah sambung. Aku memang takut akan terbawa arusnya, atau takut kehilangan indahnya. Tapi ketakutan utamaku adalah jika aku temui diriku tak berpijak pada apa yang aku yakini.

Karena Ia lah pemilik cinta yang sesungguhnya. Cinta yang utama, padaNyalah semua keutamaan menuju. Berserah dan pasrah bukan menyerah. Aku percaya semua ada jalannya, aku ingin melakukannya dengan jalan yang benar. Dan aku mulai mengerti tentang aturan yang Ia buat. Aturan yang pada hakikatnya untuk kebaikan umat. Jika aku mengaku hidup untuk berserah dan ibadah padaNya. Sempurnakan pijakan ini. Sambungkan semua dengan yang seharusnya: aturanNya.

Berserah jika aku mengaku percaya. Aku menyerahkan rasa dan urusan ini pada yang semestinya. Aku percaya kita sedang sama-sama dalam pencarian. Kita yang mungkin sudah atau belum pernah di pertemukan. Kita yang sedang berjuang dalam pencarian dengan perbaikan. Satu temanku selalu berdoa tentang yang sedang dalam pencarian. Semoga kita sama-sama terjaga dan dalam penjagaanNya. Ah, doa yang indah. Berusaha menjadi yang terbaik adalah upaya untuk menemuinya. Entah siapa kah belahan jiwa, pasti ia yang terbaik untuk diri. Entah dimana ia saat ini, ia sudah hidup dalam hariku, dalam doaku. Entah bagaimana pertemuan itu, sudah aku cintai. Dekat atau jauh sebelum kita dipertemukan.

Bandung, 30 Juli 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s