Peliknya Sebat-mu.

Aku benci asap rokok. Aku tak mengerti candu didalamnya. Iya aku pernah dibiayai kuliah oleh perusahaan rokok. Diberi makan oleh petani tembakau, menumpang mandi di rumah pembuat keranjang tembakau. Iya sekitar 60% teman terdekatku adalah perokok. Tapi mengertilah, itu tak membuat aku memaklumi asap rokok dan puntungnya sebagaimana aku mencintai mereka. Kalau ini cinta tanpa syarat, ia akan tetap jadi sumbat akan kejernihannya. Awal Juni 2015 kita mulai masuk pada musim tanam tembakau. Kemarin 31 Mei 2015 adalah hari tanpa tembakau sedunia yang telah dicetuskan oleh Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 1987. Kita tahu rokok adalah hal yang pelik. Pro dan kontranya akan berbagai bidang kesehatan, sosial, ekonomi juga budaya, oh begitu terjal. Nikotin, yang menagih, membunuhmu tapi menghidupi mereka. Asap sesak kami tapi asap dapur juga sesaknya. Pelik… Aku ingin berbagi satu kisah ku mengenali jalinan rumit yang berkesinambungan. Jalinan yang selalu pelik tapi berhubungan, walau masih kucari jawaban pasti. Inilah yang kutemukan, jalinan duniaku dengan tembakau.


30 Agustus 2013 Aku salah satu mahasiswi itu, yang pernah diInspirasi hidupnya lewat kepulan asap. Malam itu dini hari, disaat hal-hal pelik datang karena ketidak-pastian, datang sebuah berita. Aku terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa perusahaan swasta. Ada banyak bahagia pula syukur. Berjuang mendapatinya, belajar, mencari jalan, bertanya, meyakinkan, mempertahankan. Aku salah satu dari anggota penerima beasiswa yang tersebar di Indonesia. Iya perusahaan rokok. Dalam satu tahun kuliahku dibiayai oleh perusahaan rokok, yang mana penghasilannya adalah dari konsumennya yang menghasilkan bau asap. Satu tahun untuk selamanya. Beragam insight, pengalaman dan pelajaran didapatkan di dunia ini. Berikut pula fasilitas kemewahan yang begitu banyak aku dapatkan, alas dan dinding licin tanpa debu, alas tidur yang seakan menelan tubuh, hotel berbintang dengan makanan prasmanan yang tak mungkin kehabisan stok, jaringan tanpa batas dan beragam hal dalam satu tahun. Foundation ini telah mempertemukan aku dengan beragam Mahasiswa wakil negeri dari sabang sampai merauke. Beragam suku dan budaya bersatu, kita belajar toleransi tentang masing-masing kebiasaan, keyakinan, dan kebenaran. Dalam beragam sesi masing-masing pendapat sangat berharga.  Program beasiswa ini  juga membuka wawasan kami tentang strategi dan cara memimpin, bervisi, berfokus, melewati diri dan motivasi. Semuanya mendorong untuk bertujuan sama, membangun negeri ini. Bakti pada Negeri. photos-4637-1Banyak cerita tentang kesenangannya bisa anda lihat disini Menjadi bagiannya adalah anugrah, membuatnya berkah adalah ujian yang tak mudah.  Satu tahun untuk selamanya. Satu tahun, adalah pencarian makna kata dan nominalnya. Selamanya adalah tanggung jawab.  Kebanggaannya bukan dari apa yang telah kita dapat, namun dari apa yang telah kita perbuat.


Mei 2014 Satu tahun kemudian. Aku pergi ke kota tembakau. Kota dimana Tembakau jadi emas bagi penduduknya. Tiga bulan di tempat itu, Tanpa sadar kususuri beragam kisah dan cerita dibalik satu batang rokok pabrikan. Pengrajinnya yang berkesinambungan membangun jaringan usaha untuk hidup. Permintaan yang selalu ada, yang menjadikan umurnya begitu panjang. Jika kita melihat bagian cerita didalam pelaku pembuatnya, merasakan dinding bilik, alas tidur, kamar mandi yang menyatu dengan hewan ternak, meja makannya yang sederhana dan beragam permintaan kebutuhan hidup yang tak pernah usai.

DSC04809
Potret pengerajin keranjang bambu untuk wadah tembakau yang telah di panen. Keranjang bambu di gunakan untuk menyimpan tembakau agar tetap awet selama penyimpanan di gudang. Setiap pengerajin bambu bekerja siang malam untuk menghasilkan kejanjang bambu. Penghargaannya hanya setara dengan jumlah keringat yang ia keluarkan.
DSC04989
Bentuk Keranjang tembakau, terbuat dari bilah-bilah bambu yang tebal. Proses pengerjaannya begitu sulit.

Perbandingan keringat dan penghasilan yang tak seimbang. Apa lagi berbanding dengan apa yang aku dapatkan sebagai seorang penerima beasiswa. Ada ironi didalamnya. Entah apa yang membuatku berfikir ada yang tak waras. Aku sering bertanya saja, mengapa perusahaan ini tidak membiayai anak-anak para petani saja. Membiayai mereka untuk pendidikan yang lebih layak. Atau membuat sekolah tinggi bergengsi tentang teknologi pertanian, sehingga dapat menyokong usaha juga pelaku pertaniannya pula. Atau community empowerment yang di berikan pada kami di jalurkan kepada para petani dan atau lokasi pekerja yang ada. Semua pertanyaan membawa aku pada satu pertanyaan yang aku takut untuk aku ajukan. Tapi ini yang aku rasa, Mengapa yang terasa adalah citra kehebatan? karena keluarga pendukung kesinambungan usaha tak terhatikan. Adalah kami para pemuda-pemudi yang lolos seleksi, yang katanya berprestasi, visioner, berdaya juang tinggi dan percaya diri yang menjadi pilihan Foundation ini. Pikiran penuh tanya, seberapa layak aku lolos seleksinya?  Berprestasi, visioner, berdaya juang tinggi, percaya diri. Apa dengan begitu lantas layak? Entah bagaimana tapi rasanya ada yang tersumbat. Apa yang kamu rasakan ketika menjalani programnya? senang? bangga dengan segala pride-nya? Adakah makna syukur yang mendalam, yang jauh dari lubuk hatimu tergetar, yang telah tumbuh menjadi energy untukmu berjuang? Tanggung Jawab adalah kata yang berat untuk kita pegang dengan teguh. Tapi melihat ini semua, tidak kah kita paham? bahwa kita di pilih karena kita dianggap memiliki mimpi dan daya yang sesuai dengan yang mereka harapkan untuk berbakti pada negeri. Tetap saja aku rasa ada yang tak waras, ada jalur yang tersumbat akan ketulusannya. Perasaan tak layak ini barangkali karena diri belum banyak berbuat. Perasaan tak waras karena ada jalur yang tersumbat. Aneh saja, mengapa rokok yang memajukan bangsa? Jelas-jelas kontranya brutal. Mengapa mereka pilih aku? Jelas-jelas aku benci asapnya. Satu tahun sudah, hal itu bukan kebanggaan, jadi pikiran. Aku pernah ada dimasanya. Aku tahu, hak manusia untuk tersesat, tapi kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Fasilitasnya memang syukur Alhamdulillah, tapi jangan terlena.  Semua anugrah itu nol besar jika kita salah memaknainya. Sadar, jika perasaan bangga yang dirasakan tanpa mengahasilkan buah karya, kamu hanya jadi komoditas promosi Walau kita akui, segala macam keprofesionalan kompeni ini memang daya tarik luar biasa. Begitukan, yang lebih selalu jadi pilihan masyarakat, lebih selesai, lebih berwawasan, lebih beraksi, lebih berkarya. Yang benar tapi diam akan tak efektif. Kata Pak Anies Baswedan : “Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena kebanyakan orang jahat, tapi karena orang-orang baiknya diam dan mendiamkan”  Tak ada yang jahat dalam cerita ini, hanya saja nilai kebenaran saat ini adalah hal yang relatif. Jadi berjuang dengan nilai kebenaran yang kita yakini adalah cara menggapai mimpi agar orang-orang baik tidak tumbang. Tapi begitulah hikmahnya, untuk terus mencari nilai kewarasan yang satu frekuensi dengan kita, untuk belajar dari keresahan dan berjuang akan kebenarannya. Persoalan rokok memang pelik, aku tetap benci asap rokok. Membayangkan dunia tanpa Tembakau pasti wajahnya jauh berbeda dengan hari ini.

Hanya doa dan pegangan dalam pijakan selanjutnya saja yang mampu menutup kesimpulan pada peliknya kisah. Semoga semakin cerdas isi dunia, melihat kebenaranNya, menghidupinya dengan makna, menjadi bermanfaat yang penuh berkah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s